Kesetimbangan Kodrat Lelaki serta Wanita

Diposting pada

Gerakan golongan feminis selalu bergulir bersamaan perjalanan waktu. Dengan kesetaraan gender menjadi azas yang perlu diperjuangkan, mereka menggedor ajaran Islam yang telah baku. Mereka ada bak pahlawan dengan bendera al-Qur’an serta Hadis menjadi senjata, lalu mempresentasikannya lewat logika serta pandangan yang muncul dari imajinasi yang liar. Pokok yang diperjuangkan cuma satu: lelaki serta wanita mesti sama.

Rupanya, untuk memberi dukungan pemikiran ini, mereka tidak cukup hanya mengutak atik dalil agama, tapi mulai mengais riwayat peradaban kuno dengan mengkaitkan munculnya Dewi Agung di jaman kuno. Dengan keinginan temukan pengesahan yang valid buat teori-teori mereka mengenai waktu keemasan, golongan pakar prasejarah wanita (prehistorian) mulai melihat jaman purbakala. Satu negeri yang diimpikan feminis yang hilang sebab dia anggap sudah dijajah oleh golongan lelaki.

Parahnya, gebrakan pada ajaran agama yang memang memperbedakan ke-2 type insan malah dikerjakan oleh golongan Muslimin sendiri, pentingnya mereka yang berpikiran liberal. Ajaran dalam Islam yang dinilai sudah mendiskriminasi golongan wanita jadi tujuan masukan. Lalu mereka memandang al-Qur’an berdasar pada pandangan sendiri, sedang Hadis Nabi Shallall�hu ‘alaihi wasallam diobok-obok. Kelihatannya mereka memprotes dengan ketentuan agama itu serta ingin membuat syariat sendiri.

Lalu, siapakah sebagai tujuan memprotes mereka sebetulnya? Tidak ada lainnya, saat ketentuan agama jadi bahan dari analisis yang sudah dipandang diskriminatif, jadi tentu saja pembuat syariat itu sebagai tujuan masukan mereka. Akan tetapi, untuk menjelaskan demikian, terkadang mereka kurang berani, hingga mereka belokkan pada beberapa mufasir serta beberapa ahli hukum Islam. Lalu, dengan arogannya, mereka menuduh beberapa ulama itu sudah laku tidak adil, dengan mendistorsi pandangan agama, seperti kitab ‘Uq�dul-Lujain dari Syekh Nawawi Banten. Rancunya, berbekal secuil pengetahuan, mereka lalu tampilkan pandangan lainnya yang dia anggap sangat benar, walau mereka berpedoman saluran relativisme kebenaran.

Anehnya, yang mereka perjuangkan malah pada tataran untuk memuaskan nafsu, seperti kesetaraan pada lelaki serta wanita dalam soal kepemimpinan, warisan, serta hak untuk menceraikan. Mereka menampik ketentuan agama jika pemimpin mesti dari grup lelaki serta dalam ketentuan pembagian harta pusaka dengan dua banding satu. Namun, saat bersentuhan dengan kepribadian mereka, malah mereka belum pernah memperjuangkannya.

Walau sebenarnya, jika kita lihat kembali, ketidaksamaan hukum dua type insan ini tidak terlepas dari kemaslahatan manusia tersebut, pentingnya ketidaksamaan yang tersangkut psikologis serta dampak syahwat. Seperti dalam ketidaksamaan dalam keharusan tutup aurat. Terkadang muncul pertanyaan mengenai penbedaan pada aurat wanita serta lelaki, hingga berkesan tidak ada keadilan dalam ketentuan syariat. Nyatanya tidak demikian, malah ketidaksamaan itu jadi bukti jika ajaran Islam memang untuk kesejahteraan umat, untuk mengusung harkat wanita.

Satu riset ilmiah mengutarakan mengenai penelitian pengetahuan anatomi (pengetahuan urai badan) yang menunjukkan jika, dalam penciptaan-Nya Allah Subh�nahu wa ta’�l� lengkapi semua manusia dengan satu sel yang dimaksud sel libido atau birahi. Sel itu berperan menjadi perangsang gairah seksual. Sel libido yang berada di pada tubuh wanita serta pria nyatanya dibuat dengan bentuk yang berlainan. Seperti gendrang, sel yang ada pada orang pria memiliki bentuk tipis, serta pada badan wanita tebal.

Ketidaksamaan ini berimplikasi pada timbulnya rangsangan dari ke-2 sel yang berlainan juga. Sebab sel pria terbentuk dengan bentuk tipis, maka gampang bergetar saat ada suatu yang mengundang perhatian seksualnya. Saat seseorang pria lihat suatu yang mengundang perhatian dari lawan macamnya, sel libido di tubuhnya akan bergetar kuat memunculkan frekwensi syahwat bertambah.

Berlainan dengan wanita, karena sel libido di tubuhnya tebal serta tidak gampang bergetar, jadi saat lihat seseorang pria yang menutupi tubuhnya dibawah lutut serta diatas pusar, dia kurang bergairah. Disini kenapa Allah Subh�nahu wa ta’�l� memerintah golongan Udara untuk tutup semua anggota tubuhnya. Tidak lainnya untuk hindari ledakan emosi seksual pria yang tidak tahan karena rangsangan wanita. Kaum wanita disuruh untuk mengawasi kelebihan yang dikasihkan Allah Subh�nahu wa ta’�l� lewat cara tutup aurat sesuai dengan tuntunan yang sudah diputuskan.

Pun dalam salat contohnya, dimana dalam ketentuan fikih dijelaskan saat rukuk wanita disunatkan untuk mengapitkan ke-2 tangannya serta menghadapkan beberapa paha serta perut untuk sesuaikan susunan badan wanita, terpenting sisi dada. Perihal ini sebab untuk mengawasi ke-2 payudara yang meredam bungkuknya punggung serta dua bahu. Sesaat lelaki saat rukuk disunatkan merenggangkan ke-2 siku dari lambungnya. Begitu halnya sujud, lelaki merenggangkan ke-2 lengan sesaat wanita tidak. Lelaki merenggangkan ke-2 pahanya, sedang wanita tidak. Lelaki tidak tempelkan perutnya ke paha, sesaat wanita menempelkannya.

Begitupun saat imam dalam tempat salah, jadi ketentuan buat makmum yang ingin memperingatinya bila lelaki dengan membaca tasbih, sedang wanita dengan menepukkan punggung tangan kanan ke telapak tangan kiri. Perihal ini dikarenakan nada wanita yang lemas serta condong merdu bisa memudarkan konsentrasi mushalli yang lainnya.

Dalam perihal ini, Islam bukan bermakna lakukan diskriminasi. Dalam masalah beribadah Allah Subh�nahu wa ta’�l� belum pernah melihat aspek psikis ataupun fisik, sebab yang disaksikan ialah bagaimana seseorang hamba bisa menjalankan beribadah dengan ikhlas, hingga ibadahnya benar-benar jadikan persembahan penting yang berbentuk harus menjadi seseorang hamba pada tuhannya.

Ketidaksamaan pada lelaki serta wanita dalam salat ini tidak dapat dilepaskan dari aspek fisik yang dipunyai kedua-duanya. Karena, lelaki serta wanita, meskipun saling mempunyai hormon testosteron, akan tetapi kandungan dari kedua-duanya berlainan. Pada wanita, kadarnya lebih rendah. Mengakibatkan, pria relatif lebih agresif, otot lebih berisi, kuat, serta nada semakin besar. Semua tidak terlepas dari manfaat hormon testosteron dari tubuhnya. Kandungan hormon testosteron yang baik pun dibutuhkan untuk manfaat pembentukan sel benih pria (spesmatogenesis), serta produksi cairan sperma.

Demikian, Islam terlihat jelas begitu memerhatikan ketidaksamaan pada ke-2 type kelamin, terpenting dari susunan serta manfaat badan, bahkan juga kejiwaan. Berarti, agama dengan semua ketentuan yang terkait dengan hak pada lelaki serta wanita mempunyai hikmah sendiri. Tentu saja, tidak hanya untuk mengawasi kemaslahatan umat manusia, agama pun ingin mengendalikan supaya manusia dapat tenteram hidup dalam dunia ini. Kita janganlah berandai untuk mendekonstruksi ajaran agama yang sudah kuat cuma sebab kita memiliki nafsu. Sekurang-kurangnya, dengan tidak mengenyampingkan hikmah yang terdapat di dalamnya, kita sudah menempatkan penilaian pada agama dengan seimbang.[*]

(sumber: www.sidogiri.net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *