Menyelami Riwayat Baju Muslim di Indonesia

Diposting pada

SUATU hari, aktris senior Ida Royani kehadiran lima orang pengelola Sarinah, termasuk juga direktris Sarinah Thamrin. Mereka tawarkan kerja sama pada pasangan duet Benyamin Sueb itu.

“Saya lihat pakaian serta kerudung Mbak Ida Royani bagus-bagus, fancy-fancy. Selalu saya dengar pun Mbak Ida mendesain pakaian. Tolong dong, dapat tidak dimasukin ke Sarinah, soalnya belumlah ada yang jual,” kata Ida Royani, pionir usaha baju muslim Indonesia, menirukan pihak manajemen Sarinah Thamrin, pada Historia.

“Saya kan baru membuat untuk saya saja. Saya membuatnya baru satu-persatu, tidak banyak,” jawab Ida.

“Nggak apa-apa. Kita nantikan sampai banyak, kelak dimasukin ke tempat kita. Jadi masukinnya kita beli putus saja.”

Penawaran pengelola Sarinah itu jadi titik awal Ida menekuni usaha baju muslim. Saat itu, Ida barusan akan memutuskan berhenti menyanyi menyusul ketetapannya menggunakan jilbab tahun 1978. Walau mesti perang batin sebab mesti tinggalkan profesi yang dicintainya itu, Ida pada akhirnya temukan profesi baru yang tidak kalah ia gandrungi.

“Aku sama Benyamin kan kembali populer-populernya. Tetapi saya nekat saja sebab nada itu aurat, jadi mesti berhenti nyanyi. Perang batin itu. Tetapi Allah kasih jalan serta saya memang senang design,” kata Ida.

Untuk wujudkan kemauannya buka butik, Ida mencari penjahit untuk menyelesaikan design pakaiannya. Satu untuk satu design yang ia bikin selesai ditangani. Satu design pakaian tidak ia produksi masal, tetapi cuma satu dua potong. Demikian pakaian yang di produksi cukuplah banyak, butik pertama yang jual pakaian muslim pada akhirnya membuka di Sarinah Thamrin pada awal 1980-an.

Tetapi, baju muslim perancangan Ida bukan tiada cela. Saat itu baju muslim belumlah jadi pilihan baju yang wajar. “Yang ngatain sangat banyak. Itu kok pakaian muslim warnanya merah, kuning, hijau, biru. Kok pakaiannya aneh-aneh begitu. Dibenak beberapa orang itu pakaian muslim mesti putih,” kata Ida.

Ida tidak gentar. Yang penting baginya ialah baju muslim yang menutupi aurat serta tidak ketat. Saat mendesain baju muslim berkain tipis, Ida tidak habis akal. Dia memberikan furing, kain penambahan dibagian dalam baju supaya tidak tembus pandang.

Pertengahan 1980-an, Ida buka butik kedua-duanya di Pasaraya Blok M. Mall baju itu tidak cuma elegan serta elit, tetapi sekaligus juga pusat model ibukota sebelumnya ada Sogo, Seibu, atau Metro. Usaha baju muslim Ida berkembang. Ia sering mengadakan pameran baju di sejumlah negara, mulai Malaysia sampai Rusia. “Terus sesudah itu baru Anne Rufaidah, Ida Leman, itu mulai masuk Pasaraya. Anne Rufaidah pun salah satunya pionir,” kata Ida.

Anne Rufaidah pada 1985 telah mengekspor rancangannya ke Arab Saudi. Desain-desainnya populer sampai mancanegara lewat beberapa pagelaran baju, seperti di Malaysia, Aljazair, Dubai, serta India.

Akhirnya, popularitas baju muslim bertambah pada 1990-an. Penambahan itu berlangsung tidak terlepas dari semakin diterimanya jati diri keislaman oleh rezim Orde Baru. Sesudah “pecah kongsi” dengan LB Moerdani, Soeharto mendekat ke kelompok Islam.

Hal tersebut, menurut Eva F Amrullah dalam “Indonesian Muslim Fashion Styles & Designs” yang dimuat dalam Isim Ulasan No. 22, 2008, menyebabkan jumlahnya grup pengajian naik pada 1990-an. Kelompok-kelompok itu sering di pimpin mubalighah artis yang pasti berpenampilan modis. Tidak hanya Ida sendiri, ada Neno Warisman yang akan memutuskan berjilbab pada 1990-an. Di kelompok pria, ada kiai muda Abdullah Gymnastiar, Jefry al-Buchori, atau Ahmad al-Hasby sebagai simbol baju muslim pria.

Mereka jadi aspek terpenting yang menarik penduduk memakai baju muslim, terpenting baju muslim modis. Ida manfaatkan benar tempat itu untuk bisnisnya. “Kebetulan saya public figur, bertambah cepet populer brand-nya dibanding orang biasa. Itu keuntungan saya,” kata pasangan duet Benyamin S itu.

Ida lalu tidak cuma membuat baju muslim untuk wanita. Mukena, pakaian koko, serta pakaian muslim anak adalah variasi produk usaha baju muslimnya.

Saat pasar jilbab serta baju muslim ramai, banyak pihak turut terjun ke dalamnya. Brand-brand seperti Zoya, Rabbani, Elzatta, bahkan juga brand kenamaan seperti Dolce and Gabbana, DKNY, atau Zara banyak muncul. Mereka tidak cuma tawarkan bermacam mode jilbab tetapi pun kemewahan serta status melalui citra mereka di penduduk.

“Ketika pasar mulai naik, beberapa orang banyak yang turut membuat pakaian muslim. Saat banyak yang membuat, saya tidak terasa tersaingi sebab saya miliki design sendiri, ciri-ciri sendiri. Konsumen saya masih ke saya. Terpenting jahitan, jahitannya mesti rapi,” kata Ida.

Perkembangan model, terdapatnya simbol baju muslim, serta penambahan usaha baju muslim menyiapkan pilihan buat beberapa customer. Akan tetapi di lain sisi, menurut Wiwiek Sushartami dalam disertasinya, Representation and Beyond: Female Victims in Post-Suharto Alat, perubahan baju muslim di perkotaan Indonesia pada 1990-an menodai kemauan berjilbab serta jadikan mereka korban konsumerisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *